Langsung ke konten
Kembali ke jurnal

Mengapa Website B2B Anda Belum Menghasilkan Prospek Berkualitas (dan Cara Memperbaikinya)

Pelajari penyebab website B2B sulit menghasilkan prospek berkualitas serta cara memperbaiki pesan, kredibilitas, pengalaman pengguna, dan konversi.

Seorang pria memegang kepalanya dengan frustrasi di depan laptop berisi website perusahaan, dengan ikon grafik menurun, pengunjung berkurang, dan kontak yang ditolak.
Gambar editorial yang dibuat dengan AI.

Website Bisnis Seharusnya Lebih dari Sekadar Tampilan Profesional

Bagi banyak perusahaan B2B, website menjadi salah satu tempat pertama calon klien mencari informasi sebelum memutuskan untuk menghubungi perusahaan.

Mereka mungkin menemukan bisnis Anda melalui Google, LinkedIn, rekomendasi rekan bisnis, atau iklan digital.

Ketika membuka website, mereka ingin mengetahui apakah perusahaan Anda memahami industri mereka, mampu menyelesaikan masalah yang dihadapi, dan memiliki pengalaman yang relevan.

Jika informasi tersebut sulit ditemukan, pengunjung dapat meninggalkan website tanpa mengirimkan pertanyaan.

Masalahnya tidak selalu karena jumlah pengunjung terlalu sedikit. Bisa jadi website belum mampu mengubah ketertarikan pengunjung menjadi peluang bisnis.

Website B2B yang efektif seharusnya membantu calon pelanggan memahami layanan, menilai kredibilitas perusahaan, dan mengambil langkah berikutnya dengan percaya diri.

1. Penjelasan Layanan Terlalu Umum

Banyak website B2B menggunakan istilah seperti "solusi inovatif", "layanan terintegrasi", atau "transformasi digital menyeluruh".

Walaupun terdengar profesional, istilah tersebut belum tentu menjelaskan manfaat nyata bagi calon pelanggan.

Bandingkan dua pendekatan berikut.

"Perusahaan kami menyediakan solusi transformasi digital terintegrasi."

Dengan:

"Kami membantu perusahaan jasa menghubungkan website, pertanyaan pelanggan, dan sistem operasional agar tim dapat merespons lebih cepat dan mengelola peluang penjualan dengan lebih baik."

Pernyataan kedua lebih jelas karena menjelaskan siapa pelanggan yang dilayani, masalah yang diselesaikan, dan manfaatnya.

Langkah praktis: Periksa halaman utama dan halaman layanan. Pastikan pengunjung dapat memahami apa yang Anda kerjakan, untuk siapa, dan manfaatnya dalam beberapa detik.

2. Website Terlalu Banyak Membicarakan Perusahaan

Sejarah, pengalaman, dan pencapaian perusahaan memang penting. Namun, calon pelanggan biasanya lebih tertarik pada bagaimana Anda dapat membantu mereka.

Pemilik perusahaan konsultasi mungkin sedang menghadapi kesulitan mendapatkan klien baru. Perusahaan jasa profesional mungkin memiliki banyak proses manual yang memperlambat pekerjaan.

Website sebaiknya menjelaskan masalah-masalah tersebut sebelum memperkenalkan solusinya.

Buat halaman layanan yang membahas tantangan pelanggan, pendekatan penyelesaian, manfaat bisnis, dan cara memulai kerja sama.

Pendekatan ini juga membantu mesin pencari memahami relevansi konten Anda terhadap kebutuhan pengguna.

3. Kurangnya Bukti yang Membangun Kepercayaan

Keputusan pembelian B2B sering melibatkan investasi besar, beberapa pengambil keputusan, dan hubungan kerja jangka panjang.

Karena itu, calon pelanggan membutuhkan bukti bahwa penyedia layanan memiliki kemampuan yang sesuai.

Bukti tersebut dapat berupa studi kasus proyek, testimoni pelanggan, contoh pekerjaan, pengalaman tim, dan penjelasan proses kerja.

Sebuah studi kasus yang menjelaskan masalah pelanggan, solusi yang diterapkan, dan hasil yang dapat diverifikasi sering kali lebih bermanfaat daripada banyak klaim pemasaran.

Pastikan semua hasil proyek yang dipublikasikan memiliki dasar yang jelas dan izin penggunaan informasi bila diperlukan.

4. Ajakan Menghubungi Perusahaan Kurang Jelas

Website dapat memiliki konten yang baik, tetapi tetap gagal menghasilkan pertanyaan apabila pengunjung tidak mengetahui langkah berikutnya.

Tombol seperti "Submit" atau "Learn More" sering kali terlalu umum.

Untuk layanan B2B, gunakan ajakan yang lebih spesifik, misalnya "Diskusikan Kebutuhan Bisnis Anda", "Minta Evaluasi Website", atau "Konsultasi dengan Tim Kami".

Formulir juga sebaiknya sederhana. Mintalah informasi yang benar-benar diperlukan untuk memahami kebutuhan awal calon pelanggan.

Jelaskan apa yang akan terjadi setelah formulir dikirimkan agar pengunjung merasa nyaman mengambil langkah pertama.

5. Website Belum Terhubung dengan Proses Penjualan

Pertanyaan yang masuk melalui website perlu ditangani secara konsisten.

Jika semua pesan hanya masuk ke email bersama tanpa pembagian tanggung jawab, peluang bisnis bisa terlambat ditindaklanjuti.

Menghubungkan formulir website dengan CRM membantu perusahaan mencatat prospek, menentukan penanggung jawab, dan memantau perkembangan komunikasi.

Notifikasi otomatis serta pengingat tindak lanjut dapat mengurangi pekerjaan administratif dan membantu tim merespons lebih teratur.

6. Terlalu Fokus pada Jumlah Pengunjung

Jumlah pengunjung merupakan salah satu indikator performa website, tetapi bukan ukuran keberhasilan bisnis yang lengkap.

Website dengan sedikit pengunjung yang sesuai target bisa menghasilkan peluang lebih baik daripada website dengan traffic tinggi yang tidak relevan.

Mulailah mengukur jumlah pertanyaan masuk, prospek berkualitas, jadwal konsultasi, dan peluang penjualan yang terbentuk.

Jika memungkinkan, hubungkan data pemasaran dengan hasil penjualan agar keputusan investasi lebih akurat.

Kesimpulan

Website B2B yang efektif bukan hanya brosur digital. Website seharusnya membantu calon pelanggan memahami layanan, mempercayai perusahaan, dan memulai komunikasi.

Dengan pesan yang jelas, bukti kredibilitas, CTA yang tepat, dan sistem yang saling terhubung, website dapat menjadi bagian penting dari proses mendapatkan pelanggan baru.

Ingin website bisnis Anda menghasilkan peluang yang lebih berkualitas?

NusaDigital membantu perusahaan jasa menghubungkan website, digital marketing, data, dan software untuk membangun proses pemasaran dan penjualan yang lebih efektif.

Pelajari Layanan B2B NusaDigital

NUSA DIGITAL / JOURNALJelajahi ide lainnya